Searching...

Sering Bertengkar tingkatkan resiko kematian

Sering bertengkar tak hanya berpengaruh terhadap hubungan dengan orang lain, melainkan juga bisa berimbas pada kesehatan. Dan ini tak hanya pertengkaran yang berkaitan dengan pasangan saja, melainkan juga dengan keluarga dan tetangga. Sebuah penelitian mengungkap bahwa pertengkaran bisa meningkatkan risiko kematian seseorang. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiology & Community Health ini menjelaskan bahwa orang yang sering terlibat dalam pertengkaran, baik dengan pasangan, keluarga, teman, atau tetangga memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Efek ini lebih tinggi pada pria dan orang yang tidak memiliki pekerjaan, seperti dilansir oleh Daily Mail (08/05). Penelitian ini menunjukkan bahwa memiliki keluarga dan lingkungan sosial yang baik dan rukun berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Namun pertengkaran pun bisa berisiko terhadap kesehatan seseorang. Hasil ini didapatkan peneliti setelah melakukan penelitian terhadap sekitar 10.000 pria dan wanita berusia 36 tahun hingga 52 tahun. Antara tahun 2000 dan 2011, sekitar 196 wanita dan 226 pria meninggal. Hampir setengah kematian disebabkan oleh kanker, penyakit jantung, lever, dan kecelakaan, serta bunuh diri. Sekitar enam persen partisipan mengklaim bahwa mereka sering bertengkar dengan pasangan, sementara dua persen lagi sering bertengkar dengan keluarga dan saudara. Sementara itu, satu persen lagi mengaku sering bertengkar dengan tetangga. Hasil tersebut sama bahkan ketika peneliti menghitung faktor lain seperti gender, status pernikahan, tingkat depresi, kelas sosial, dan pekerjaan. Sering bertengkar dengan pasangan dan anak berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat banyak hal antara 50 hingga 100 persen. Penelitian ini mengungkap bahwa mereka yang tak memiliki pekerjaan bahkan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi ketika mereka mengalami banyak tekanan dan sering bertengkar dengan orang di sekitar mereka. Meski begitu, peneliti menjelaskan bahwa hal ini bisa jadi juga dipengaruhi oleh kepribadian partisipan. Beberapa yang lebih mudah terserang stres memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
Sumber : merdeka.com

 
Back to top!