Searching...

Akibat Mengabaikan Sedekah, Matinya Karena Sepotong Roti

Assalamualaikum Wr.Wb..
Di kampungnya, ketenaran Syamrin sebagai tuan tanah sudah tidak terbantahkan lagi. Tanah miliknya meliputi daerah pesisir pantai, perkebunan, dan perbukitan. Dengan watak dan naluri pengusaha yang jempolan, Syamrin berhasil mendulang banyak kekayaan, memanfaatkan tanah yang dia miliki tersebut. Namun sayang, di mata warga di kampungnya, Syamrin juga terkenal sebagai orang yang pelit. Bukan rahasia lagi bahwa dalam tiga hari sekali, lelaki setengah baya tersebut bisa membuang berbungkus-bungkus makanan sisa ke tempat pembuangan akhir. Padahal, di sekitarnya banyak orang yang hidup serba kekurangan.
“Apa? Kamu menginginkan sepotong roti yang tersisa di toples ini?” bentaknya sore itu kepada seorang pengemis yang mengharap uluran tangannya.
“Ya, Pak, tolonglah saya,” pinta iba pengemis tersebut. “Sepotong roti itu pun tak apa. Buat mengganjal perut saya.”
“Simpan permohonanmu itu! Sudahlah sana pergi!” hardik Syamrin. “Memang kamu kira saya sudah tak mau roti ini?”
Pengemis malang itu pun berlalu. Meninggalkan Syamrin yang terus menggerutu. Esoknya, seolah tak jera, si pengemis datang lagi ke rumah Syamrin. Maklum, di antara rumah warga, rumah Syamrin yang tampak paling mentereng dan megah. Berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Jadi, wajar kalau bagi pengemis tersebut, Syamrinlah yang paling layak untuk diharapkan sedekahnya. Namun, kini dilihatnya rumah Syamrin sang penghardik itu telah disesaki banyak orang. Karena penasaran, pengemis itu pun memberanikan diri bertanya kepada salah seorang warga tentang apa yang terjadi. Menurut omongan banyak orang, lelaki kaya separuh baya tersebut kemarin sore ditemukan tergeletak lemas dengan mulut mengunyah separuh roti. Rupanya, Syamrin mati karena keracunan sepotong roti sisa yang telah kadaluwarsa.
Ketamakan adalah sebab yang menenggelamkan Qarun. Sayang,
tidak banyak yang mau belajar darinya.
Ketamakan terhadap harta sering berujung pada kerugian besar dan nasib sial, bahkan tragis. Mengagungkan harta dengan tidak pada tempatnya, ibarat kita membangun sebuah “menara gading” yang rapuh. Kita menyangka akan bahagia dan mulia dengannya. Padahal, di luar yang kita sadari, “menara gading” tersebut suatu kita runtuh dan mengempaskan diri kita. Ketertarikan terhadap harta dunia bagi kita adalah hal lumrah dan sifat alamiah manusia. Tetapi, dengan menempatkannya secara proporsional akan menjadi pancaran sikap hidup yang dewasa dan tercerahkan. Harta tetap penting tetapi ia bukan segala-galanya. Pandangan bahwa harta adalah segala-galanya menjauhkan diri dari ketinggian nilai kemanusiaan kita, yang di atas segala-galanya jauh lebih tinggi dari nilai apa pun dari perbendaharaan materi dunia. Bersyukur, itulah cara bijak dan cerdas menyikapi rezeki atau kekayaan kita. Dan, nilai syukur manusia bisa dilacak dari seberapa besar kemauan ia berbagi dan peduli dengan sesamanya.

Sponsor :
 
Back to top!