Searching...

Penuhi panggilan Allah maka kamu akan masuk surga

Assalamualikum wr.wb..
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan. “(Al-Anfal: 24)Hakikat kehidupan yang baik ialah kehidupan yang diisi dengan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Mereka yang menjalani seruan ini adalah orang-orang yang tetap hidup meskipun mereka sudah meninggal. Sedangkan mereka yang mengabaikannya adalah orang-orang mati meskipun mereka masih hidup fisiknya. Kalaupun disebut hidup, maka kehidupan itu adalah kehidupan binatang. Karena itu sesempurna kehidupan seseorang ialah yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.
  • Hakikat Kehidupan
Menurut Imam Mujahid, arti “sesuatu yang memberi kehidupan” dalam ayat ini ialah kebenaran. Sedangkan menurut Imam Abu Qatadah, maksudnya adalah Al-Quran, karena di dalamnya terkandung kehidupan, keyakinan, keselamatan dan perlindungan di dunia maupun di akhirat. Adapun menurut Imam As-Saddy, maksudnya adalah Islam, karena telah memberi kehidupan setelah mati akibat kekufuran. Sementara itu menurut Ibnu Ishaq dan Urwah bin Zubair, arti kalimat itu adalah peperangan yang karenanya Allah memuliakan umat Islam setelah dihinakan, yang membuat mereka kuat setelah lemah, yang membuat mereka mampu membela diri dari musuh. Menurut Al-Wahidy, mayoritas ulama terutama para ahli ilmu ma’any (sastra Arab) berpendapat makna “sesuatu yang memberi kehidupan” adalah jihad. Senada dengan itu menurut Al-Farra’, arti kalimat itu, “Allah menyeru kalian untuk menghidupkan urusan kalian dengan cara memerangi musuh kalian.” Maksudnya, urusan mereka menjadi kuat hanya dengan cara perang dan jihad. Jika mereka meninggalkan jihad, tentu urusan mereka akan menjadi lemah, sehingga musuh akan dengan mudah melibas mereka. Ibnu Qoyim juga mengatakan, ”Memang jihad merupakan sesuatu yang paling mereka (orang beriman) sukai di dunia, di barzakh dan di akhirat. Ketika di dunia, kekuatan dan kemampuan mereka untuk mengalahkan musuh hanya bisa dilakukan dengan jihad.” Tentang di barzakh, Allah telah befirman: 

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup cti sia Rabbnya dengan mendapat rezeki.” (Ali Imran: 169) 
Sementara di akhirat, bagian kehidupan dan kenikmatan bagi para mujahidin dan syuhada, jauh lebih besar dari siapapun. Karena itu Ibnu Qutaibah berkata, “Sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian itu ialah mati syahid.” Menurut sebagian mufasir lainnya, arti kalimat itu adalah surga, karena surga adalah tempat tinggal makhluk, yang di dalamnya terdapat kehidupan yang abadi dan baik. Pendapat ini diungkapkan Abu Ali Al-Jurjany. Ibnu Qoyim sendiri memastikan bahwa ayat ini mencakup semua makna-makna tersebut. Sebab iman, Islam, Al-Quran dan jihad dapat memberi kehidupan bagi hati dengan kehidupan yang baik, sementara kesempurnaan hidup ada di surga. Rasulullah SAW menyeru kepada iman dan juga kepada surga. Beliau menyeru kepada kehidupan di dunia dan di akhirat.
  • Dua Kehidupan
    Ibnu Qoyim juga berpendapat, manusia seharusnya memiliki dua jenis kehidupan.
    • Pertama, kehidupan fisik, yang dengannya dia bisa mengetahui dan mementingkan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat. Selagi di dalam dirinya ada kekurangan dari kehidupan ini, maka dia akan mendapatkan penderitaan dan kelemahan, tergantung pada besar kecilnya kekurangan itu. Karenanya kehidupan orang sakit, orang yang sedih, berduka, takut, miskin dan terhina, berbeda dengan kehidupan yang mendapat afiat dan terhindar dari semua itu.
    • Kedua, kehidupan hati dan ruh, yang dengan kehidupan ini dia bisa membedakan antara yang haq dan batil, kesesatan dan petunjuk, yang lurus dan yang bengkok, sehingga dia memilih yang haq dan meninggalkan kebalikannya. Kehidupan ini semakin mantap jika bisa membedakan antara manfaat dan mudharat dalam ilmu dan kehendak serta amal. Kehidupan ini juga akan akan terbantu kekuatan iman, kehendak mencintai kebenaran, kekuatan kebencian kepada yang batil.
Kehidupan fisik diawali oleh kematian. Kemudian Allah tiupkan ruh ke dalam jasadnya. Begitu pula kehidupan hati, awalnya tidak memiliki kehidupan. Hingga Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam meniupkan sebagian dari ‘ruh’ yang disampaikan Allah kepada beliau. Firman Allah:
“Dan, demkianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah AI-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. ” (Asy-Syura: 52) 
Wahyu-Nya adalah ruh dan cahaya. Kehidupan dan cahaya tergantung pada dua jenis tiupan yakni dari malaikat dan dari Rasul. Siapa yang mendapat kedua tiupan itu, maka maka dia berhasil mendapat dua macam kehidupan. Dan siapa yang hanya mendapatkan tiupan malaikat saja tanpa tiupan Rasul, maka dia hanya mendapatkan salah satu kehidupan saja dan dia kehilangan satu kehidupan lainnya.

“Dan, apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (Al-An’am: 122)

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dengan orang-orang yang mati. (Fathir: 19-22)
Dalam ayat-ayat tersebut Allah menghimpun kehidupan dan cahaya bagi orang yang beriman, sebagaimana Dia menghimpun kematian dan kegelapan bagi orang yang berpaling dari Kitab-Nya.
  • Garis Pemisah
Penggalan akhir dari ayat ini, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara ffianusia dan hatinya”, menurut pendapat yang masyhur, Allah membatasi antara orang mukmin dengan kafir, antara keimanan dan kekafiran, antara orang-orang yang taat kepada-Nya dengan orang-orang yang durhaka kepada-Nya. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dan jumhur mufasirin (ahli tafsir). Ada pendapat lain tentang kalimat ini dalam ayat di atas, bahwa Allah dekat dengan hatinya, sehingga tidak ada yang tidak diketahui-Nya, karena Allah ada di antara diri hamba dengan hatinya. Pendapat ini disebutkan Al-Wahidy dari Qatadah. Menurut Ibnu Qoyim, pendapat kedua ini lebih pas untuk hubungan dalam kalimat pada ayat ini. Sebab, asal pemenuhan seruan ialah dengan hati. Pemenuhan seruan tidak bermanfaat bila dilakukan fisik tanpa kesertaan hati. Karena Allah berada di antara hamba dan hatinya, maka Dia mengetahui apakah hatinya memenuhi seruan-Nya, apakah hatinya memendam hal itu, menolaknya ataukah memendam seruan yang selain dari-Nya? Jika seseorang merasa enggan dan berat untuk memenuhi seruan tersebut atau lamban dalam memenuhinya, maka janganlah ia merasa aman bahwa Allah akan membatasi antara diri dengan hatinya, sehingga tidak ada kesempatan untuk memenuhi seruan lagi pada masa berikutnya. Begitu seterusnya sampai hatinya makin jauh, makain gelap dan pada akhirnya berujung pada kesengsaraan. Ini merupakan hukuman karena pada masa sebelumnya mengelak untuk memenuhi seruan. Padahal kebenaran sudah jelas.

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (Al-Baqarah: 256)

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pemah beriman kepadanya (AJ-Qur’an) pada permulaannya. “(A-An’am,- 110)

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. “(Ash-Shaff: 5)

Sponsor :
 
Back to top!